» » Kapankah Waktu Yang Tepat untuk Membunuh Seekor Naga yang Jahat dan Kejam? Jawabannya Bisa Menentukan Bisnis Anda Lanjut atau Game Over

Kapankah Waktu Yang Tepat untuk Membunuh Seekor Naga yang Jahat dan Kejam? Jawabannya Bisa Menentukan Bisnis Anda Lanjut atau Game Over

posted in: Bisnis 0

Ada yang menjawab ketika sedang tidur, ketika sedang boker, ketika sedang makan, kita racunin. Semua jawaban itu bisa saja benar, tapi kurang bijaksana.

Jawaban yang bijak adalah ketika dia masih menjadi telur.

Naga yang jahat dan kejam adalah analogi dari masalah yang sudah parah. Sedangkan telur menggambarkan saat masalah itu masih kecil.

Seringkali kita memilih membiarkan suatu masalah. Karena enggan berususan dengannya. Sayangnya, masalah cenderung membesar bila dibiarkan. Saat dia meledak, skalanya bukan lagi petasan, melainkan bom nuklir Rusia, Tsar Bomba.

Berikut adalah contoh kasus dari kisah nyata.

A dapat sebuah orderan besar. A butuh modal untuk pemenuhannya. A ingin pinjam uang ke B. Sementara B juga tidak punya uang, tapi ada kartu kredit. Maka B menarik tunai sebesar Rp. 10 Juta untuk A.

A akhirnya bisa produksi. Masalah terjadi ketika kualitas produksi A tidak memenuhi standar. Klien tidak mau bayar. A kini terlibat hutang ke B, dan B terlibat hutang ke Bank.

A tidak ada uang, demikian juga B.

A tidak mau bayar, B juga tidak mau bayar, karena uangnya bukan dia yang pakai.

Karena kurangnya pengetahuan, mereka tidak menyadari kejamnya bunga kartu kredit. Sifat dari bunga itu adalah bunga berbunga. Sederhananya, pada saat awal-awal terlihat pertambahan hutangnya kecil. Namun pada suatu waktu tertentu, pertambahan hutangnya akan sangat cepat dalam jangka waktu yang lebih pendek.

Singkat kata hutang sebesar 10 juta dalam beberapa bulan merangkak menjadi Rp. 18 juta. Nasihat sudah diberikan kepada B untuk melunasi hutang itu meskipun bukan dia yang pakai. Karena Bank hanya tahu kartu kredit itu atas nama B, dan B harus tanggung jawab. Namun karena masih merasa tidak adil, dia tidak mau.

Alhasil hutang terus membengkak dalam waktu singkat. Menjadi Rp. 30 juta.

Teror pun mulai berdatangan. Karena ketika status seseorang sudah menjadi gagal bayar, bank akan menyerahkan penagihan kepada pihak ketiga. Dan pihak ketiga akan pakai cara-cara yang tidak sopan dan cenderung ke teror, seperti “Jual saja ibumu, buat bayar hutang!”

Akhirnya C datang dan berkata, “Sudah jangan lari lagi, hadapi saja. Kita ke bank minta agar hutang ini disetop bunganya.” Dengan berat hati, akhirnya B menyetujui.

Setelah masalah ini dibicarakan ke pihak bank bagian kartu kredit yang letaknya di luar kota. Bank menyetop bunga itu, dan memberikan jangka waktu tertentu dengan cicilan tertentu, yang masih cukup besar untuk di lunasi per bulannya.

Akhirnya seiring waktu meskipun dengan terseok-seok, B akhirnya bisa melunasi hutang tersebut.

Andai saja B menyelesaikan masalah itu ketika “sang naga” masih senilai 10 juta, dia tidak harus berhadapan dengan “naga” sebesar 30 juta.

Bayangkan kalau hutang itu dibiarkan menjadi 100 juta.

Nah, sekarang apakah naga Anda?

Hati-hati karena sebagian naga, bisa langsung menghancurkan segalanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *